Jumat, 10 Juni 2011

Refleksi Metode Pengajaran dalam Al-Qur’an part 1

Oleh : Moch Sya’ban Abdul Rozak

Taukah anda Pondok Pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo? Pondok ini telah menghasilkan orang-orang hebat di Negeri ini, sebut saja Hidayat Nurwahid mantan ketua MPR RI, atau ketua Muhammadiyah Din Syamsudin, dan lain sebagainya. Belum lagi para alumni – alumni yang menjadi pimpinan – pimpinan pondok pesantren di seluruh daerah yang tersebar di Indonesia.

Tidak salah memang pondok modern Gontor ini dapat menghasilkan kader-kader yang sangat luar biasa, karena memang metode pembelajaran yang digunakan dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap santri-santinya. Dari sekian banyak motto yang dijadikan pegangan pondok ini, ada satu motto yang kurang lebih bermakana “dalam sebuah pembelajaran, Madah (Materi) menjadi hal yang sangat penting, akan tetapi Metode jauh lebih penting dari pada materi, Guru lebih penting dari metode.” Kemudian seorang master trainer Al-Qur’an metode albana Ust. Ambya Abu Fathin menambahakan Karakter Guru jauh lebih penting dari pada guru itu sendiri.

Dari motto tersebut mari kita garis bawahi ungkapan “akan tetapi Metode jauh lebih penting dari pada materi”. Jika kita memperhatikan dan mengkaji lebih mendalam ayat-ayat dalam Al-Qur’an, Allah banyak mengemukakan konsep-konsep metodologi pengajaran yang kemudian dapat diaplikasikan dalam pengajaran di dalam kelas, sekolah ataupun di kampus. Berikut akan penulis ungkapkan beberapa ayat yang berkenaan dengan metodologi pengajaran.

Pertama firman Allah dalam surat Jiin ayat 16

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقا (16 )

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu , benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar .

Ayat ini mengemukakan bahwa jika kita tetap berjalan di jalan yang lurus, maka benar-benar kita akan diberikan air yang segar untuk diminum. Dan jika ayat ini ditafsirkan dalam penafsiran tarbawi atau ranah pendidikan, Maka paling tidak mempunyai dua pengertian, yaitu:

Pertama, bahwa jalan untuk mengantarkan kepada tujuan atau metode pengajaran haruslah bersifat istiqomah, artinya metode yang dipakai ini harus tepat sasaran, yaitu metode yang dikembangkan oleh seorang guru sesuai dengan siapa peserta didiknya. Jikalau peserta didiknya itu adalah siswa Sekolah Dasar (SD) maka janganlah memakai metode untuk mahasiswa atuaupun sebaliknya. Maka kemudian akan muncul kewajiban untuk seorang guru itu mengetahui karakteristik peserta didiknya secara global atau terperinci. Dalam hal ini istiqomah dapat diartikan juga Proposional, artinya dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.

Kedua, hendaknya seorang guru mengetahui Ruh atau inti pembelajaran dari setiap pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan. Misalnya kita mengetahui bahwa matematika adalah pelajaran yang didalamnya terdapat perhitungan-perhitungan maka ruh dari matematika ini salah satunya adalah perhitungan, kemudian pelajaran bahasa Inggris ruh nya adalah bagaimana seseorang itu bisa berbicara dengan bahasa inggris. Maka ketika seorang guru sudah mengetahui ruh dari setiap pelajaran, tidak akan terjadi ketimpangan dalam menggunakan metode pengajaran yang dipakai. Tidak akan terjadi seorang guru bahasa Inggris mengajarkan bahasa Inggris dengan metode perhitungan yang notabenenya hal itu dipakai dalam pelajaran matematika ataupun sebaliknya.

Selain itu metode pengajaran yang diungkapkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat Ali Imran ayat 164

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ )ال عمران : 164)

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Ungkapkan dalam ayat ini adalah bahwa manhaj atau metode Nabi dalam menyampaikan pengajaran kepada orang – orang beriman / sahabat-sahabanya kala itu adalah dengan memakai tiga cara;

Pertama, metode Tilawah atau membacakan. Dalam kajian bahasa Arab arti membaca itu paling tidak ada dua kata. Tilawah dan Qoro’a keduanya berarti mambaca, namun jika kita perhatikan lebih dalam, makna yang terkandung didalamnya sangat berbeda. Qoro’a berarti hanya membaca saja, sedangkan tilawah selain membaca ada pengungkapan makna yang dibaca. Jadi Qoro’a belum tentu Tilawah, tapi tilawah maka sudah tentu ada unsur qoro’a. jika melihat pemaknaan ini maka sangat kelirulah adanya MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) yang didalamnya hanya ada unsur membaca saja. Maka dalam hal ini Allah mengungkapkan dengan kata tilawah karena nabi membacakan ayat-ayat Allah disertai mengungkapkan isi dari setiap ayat yang dibacakanya.

Kedua, setelahnya nabi membacakan kandungan dari setiap ayat, kemudian orang-orang beriman sudah faham, maka metode selanjutnya yang dipakai adalah metode Tazkiyah atau metode pembersihan hati. Penyucian dari kesirikan, kedengkian dengan menanamkan tauhid dan aqidah yang salim kepada setiap peserta didik. Penanaman aqidah yang benar ini penting disampaikan kepada setiap peserta didik apapun materi yang diajarkanya, apakah matematika, bahasa inggris, fisika, ekonomi dan lain lain. Karena metode pembersiahan hati ini dapat membantu bagi setiap guru dalam menyampaikan ilmu kepada peserta didik secara efektif dan tepat sasara.

Setelah itu, metode yang ketiga yaitu metode Ta’limul kitab wal Hikmah yaitu menyampaikan ilmu dalam kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (As-Sunnah). Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Al-Qur’an itu bersifat global, isi-isi yang terkadung dalam Al-Qur’an masih bersifat universal (umum). Maka penyampaian materi dalam metode ini dapat dilakukan dengan menjelaskannya secara global. Misalnya seorang Ustadz akan mengajarkan Shalat maka langkah awalnya jelaskanlah shalat itu secara global, bahwa shalat wajib bagi setiap muslim, shalat dapat menjauhkan seseorang dari sifat mungkar dan lain sebagainya. Nah adapun Hikmah (As-Sunnah) berperan setelah adanya penjelasan dari kitab atau Al-Quran, karena karakter dari As-sunnah itu adalah terperinci, maka penjelasan terkait dengan materi yang diajarkannya pun setidaknya harus diperinci. Jika kembali kepada contoh yang tadi maka seorang ustadz meneruskan penjelasaan terkait shalat secara terperinci, bagaimana syarat sah shalat, apa saja yang membatalkan shalat dan lain sebagainya. (akhir part 1,, bersambung)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

KABAR TERKINI

KATA MUTIARA

GALLERY